Rapat Kerja DEMA FUD harapkan Kinerja Efektif

Oleh: Departemen Komunikasi dan Informasi (KOMINFO)

Sragen, [24-25/03/2021]
Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah ( DEMA FUD ) mengadakan Rapat Kerja dan Pelantikan yang dihadiri oleh Demisioner Ketua Umum DEMA FUD 2020 yaitu Eko Aji Arabbiyanto dan Ketua SEMA FUD 2021 yaitu Agus Salim.

Tema Rapat Kerja pada periode ini adalah “Gerak Bersama, Kerja Seksama, Progres Nyata”
Acara diadakan dua hari satu malam, Rabu dan Kamis di rumah anggota (Iga Aryani) salah satu anggota dari Departemen Pengembangan Potensi Sumber Daya Mahasiswa (PPSDM).

Rapat kerja periode 2021 diketuai oleh Mujibullah Al Wahid, dan dipimpin oleh Ramadhani Fitriani Ashari. Rapat Kerja dimulai pada pukul 15.00 hingga 20.00, yang diisi dengan pemaparan program kerja dari setiap department dan Badan Pengurus Harian.
Esok harinya, kami diajak berjalan-jalan untuk melihat waduk yang ada di dekat lokasi rapat kerja dan berkunjung ke warung apung milik keluarga Iga.
Penutupan rapat kerja dilaksanakan pada pukul 10.00, dipimpin oleh moderator dan sambutan sambutan oleh ketua umum dan Bapak Faris, selaku pemilik rumah tersebut.

Cobalah untuk tidak hanya menjadi orang yang sukses, tetapi cobalah untuk menjadi orang yang bernilai.

Kupas tuntas Dunia Penyiaran, DEMA FUD Gelar Bincang Virtual

Oleh: Departemen Komunikasi dan Informasi

Sabtu, 28/11/2020 Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta baru saja menggelar bincang virtual seputar penyiaran kampus dengan memanfaatkan platform google meeting.

Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dengan sambutan dari ketua umum DEMA FUD 2020 Eko Aji Arabbiyanto. Diskusi kali ini di isi oleh dua pemateri yang luar biasa, Fajar Mu’ti Abdillah selaku Direktur Permata TV serta Nur Kholis selaku Host Radeka Podcast.

Para pemateri memaparkan terkait dinamika dunia penyiaran di kampus, bahwa mahasiswa khususnya mahasiswa dakwah harus melek terhadap perkembangan zaman yang tidak terlepas dari media digital. Mahasiswa FUD harus mampu menyemarakkan Islam yang ramah dan toleran di media sosial. Tidak hanya itu, mahasiswa milenial juga harus peka terhadap media sosial.

Fajar mengungkapkan bahwa saat ini banyak sekali konten-konten dakwah yang muncul di media sosial, sehingga sebagai pengguna media sosial harus mampu menyaring muatan yang ada di media sosial.

Obrolan diakhiri dengan closing statement oleh pemateri. “Masa sekarang harus melek dan menguasai media sosial, bukan karena halusinasi, karena media sosial memang cerminan diri di media nyata”.

Bincang Virtual: Diskusi Buku “Jawa-Islam di Masa Kolonial”

Oleh: Departemen Kominfo (Komunikasi dan Informasi)

Sabtu,14/11/2020. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Surakarta baru saja menggelar bincang virtual bertajuk diskusi buku yang berjudul “Jawa-Islam di Masa Kolonial” karya Nancy K.Floridina. Pemantik dalam diskusi tersebut adalah Raha Bistara, S.Ag., mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan di moderatori oleh Ramanda Ade Saputra salahsatu anggota Dema FUD 2020.

Selengkapnya klik link di bawah yaa👍

https://fud.iain-surakarta.ac.id/bincang-virtual-diskusi-buku-jawa-islam-di-masa-kolonial/

Kupas Tuntas Dunia Literasi, DEMA FUD Selenggarakan Seminar Kepenulisan

Oleh: Departemen Komunikasi dan Informasi

Sabtu, 17/10/2020. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Surakarta, baru saja menggelar Seminar Kepenulisan online dengan tema “Semua bisa menjadi penulis” dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang kepenulisan. Narasumber pertama adalah Abdul Halim, M.Hum. selaku dosen IAIN Surakarta sekaligus pimpinan redaksi IslamSantun.org, narasumber kedua adalah Maria Ulfa Fauzi, Lc., MA. selaku founder Neswa.id. Acara dimoderatori oleh Sri Ayu Ratna selaku koordinator departemen PPSDM DEMA FUD 2020.

Lebih lanjutnya klik sini yaaa🙌🙌 https://fud.iain-surakarta.ac.id/kupas-tuntas-dunia-literasi-dema-fud-selenggarakan-seminar-kepenulisan/

Terima kasih dan Selamat Membaca!!!

DAKWAH DI MASA PANDEMI DENGAN TEKNOLOGI MODERN

Oleh: Septi Rahmawati (Mahasiswa Politeknik Indonusa Surakarta)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Q.S An-Nahl ayat 124.

Berdakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Setiap pribadi muslim yang telah baligh dan berakal, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kewajiban untuk mengemban tugas dakwah. Pada ayat diatas, Al–Quran surat An-nahl ayat 125 menerangkan bahwa dakwah adalah mengajak umat manusia ke jalan Allah swt. Dengan cara bijaksana, nasehat yang baik, serta berdebat dengan baik pula.Setiap individu dari umat Islam dianggap sebagai penyambung tugas Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam untuk menyampaikan dakwah.

Kegiatan dakwah yang universal mengajak ke jalan kebenaran ini kemudian melahirkan kegiatan dakwah parsial yang mengajak kejalan kebathilan sebagai perwujudan respons terhadap dakwah menuju jalan kebenaran itu. Dalam struktur sosial yang demikian, para Nabiullah ketika melaksanakan dakwah menuju kebenaran senantiasa ditolak oleh dua kekuatan yang terdiri dari al-mala dan al-mutrafin tersebut. Ideal yang ingin di capai dari kegiatan dakwah itu adalah tiga kelompok masyarakat itu menerima islam sebagai ad-diin (jalan hidup yang benar. Sehingga struktuk kemasyarakatannya berubah , menjadi pemimpin (para pemuka masyarakat yang muttaqin sebagai imam), para aghnia-Muslim dan jama’ah yang hidup dalam ummah.

Dakwah yang dilaksanakan Nabiullah Ibrahim as dan Musa as dan Harun as menggabarkan secara jelas bagaimana al mala dan al mutrafin menolak dan bahkan berusaha menghancurkan dakwah Islam. Kedua nya memperoleh perlawanan struktur atas masyarakat karena mereka telah menempatkan dirinya sebagai illah (Tuhan) yang kehedak subjeknya (al-Hawa) menentukan semua hak ihkwal mengenai pengaturan masyarakat. Lain lagi dengan nabi Daud as, Sulaiman as dan Muhammad saw dalam mengoprasikan dakwah sampai masyarakat muslim dapat dikenali secara empirik. Keberhasilan itu memiliki alasan tersendiri karena adanya sunatullah dalam dakwah yang terpenuhi. Ilmu pengetahuan menjadi berkah atau terkutuk tetapi hikmah bisa membedakan antara penilaian yang benar dan keliru, antara kayakinan yang benar dan yang salah antara perbuatan baik dan buruk. Menurut Al Ghazali, manifestasi kebijakan itu ada 4 : husn at tadbir (kecakapan manajerial), faudat adz dzihan (kecermatan yang sangat), naqayat ar ra’y (kejernihan pikiran), sawab az zaha (ketajaman pikiran). Tanpa ilmu yang kemudian menjadi hikmah dakwah Islam tidak akan memperoleh hasil yang memadai. Cara berfikir terefleksi dalam cara berkeyakinan, berbudaya, bermasyarakat dan peradabannya yang semua tercermin dalam sistem kemasyarakatan yang berlaku. Perintah Nabi saw mengindikasikan dengan ilmu dakwah (al Hikmah). Dengan pemahaman semua masalah yang muncul dari interaksi unsur-unsur dakwah secara keilmuan, maka diperoleh sistem penjelas atas semua realitas dan masalah dakwah dan metodologi pemecahannya.

Secara historis dapat diketahui bahwa proses Islamisasi di Nusantara terjadi karena aktivitas dakwah. Tanpa usaha yang dilakukan oleh para da’i, maka rasanya tidak mungkin akan terjadi ke pengantar terbesar umat Islam di Indonesia sebagaimana yang kita ketahui sekarang. Meskipun secara general bahwa masyarakat Indonesia adalah umat Islam terbesar di dunia, akan tetapi dari sisi kehidupannya belumlah menjadi masyarakat yang ideal. Yaitu masyarakat yang memiliki keyakinan keagamaan yang kuat, memiliki prinsip kehidupan yang benar dan memiliki ketercukupan secara ekonomis. Banyak masyarakat Indonesia yang belum seperti gambaran ini.
Dakwah sebagai fenomena sosial penting untuk mencegah timbulnya gerakan-gerakan dakwah yang menyimpang dari nilai-nilai Islam, seperti muncul aliran sesat yang dipimpin oleh Ahmad Musaddeq yang notabene para pengikutnya sebagian besar adalah para remaja. Analisis yang menarik dari pemerhati masalah sosial keagamaan yakni salah satu faktor penyebab munculnya aliran sesat tersebut dikarenakan lemahnya dakwah di kalangan remaja. Selain itu, adanya kekerasan yang mengatasnamakan agama yang dilakukan sebagian dari organisasi dakwah yang ada di Indonesia dan terjadinya konflik antar umat beragama atau intern umat beragama merupakan sebagian dari disorientasi aktivitas dakwah dan lemahnya kajian-kajian dakwah di kalangan umat Islam. Mereka kurang memahami tujuan dan fungsi dakwah yang sesungguhnya yakni mengajak kepada kebenaran dan membawa umat dalam suasana yang damai dan sejahtera.

Ada banyak masyarakat Indonesia yang beragama Islam dalam keadaan masih miskin atau kaum mustadafin. Mereka yang masih terasa di bawah garis kemiskinan dan masih terpinggirkan. Oleh karena itu, gerakan ke arah mengembangkan ekonomi umat Islam saya kira merupakan gerakan yang tepat bagi masyarakat Islam di Indonesia. Dakwah Islam memang sudah menggunakan pendekatan yang modern. Dakwah sudah menggunakan medium informasi yang mutakhir. Dakwah sudah dikemas dengan medium televisi, radio, surat kabar dan sebagainya. Dakwah sudah menghiasi halaman demi halaman surat kabar, dakwah sudah menghiasi tayangan demi tayangan medium televisi. Akan tetapi dakwah yang berpusat pada peningkatan ekonomi umat tentu belumlah menjadi arus utama bagi masyarakat kita.

Selanjutnya, kegiatan dakwah yang banyak menyedot waktu dan perhatian umat Islam tersebut, jangan di biarkan berjalan apa adanya, tanpa ada design yang teratur dan sistematis. Akan lebih bagus manakala para da’i ketika mau melakukan dakwah terlebih dahulu melakukan research. Hasil research kemudian di tindaklanjuti dengan kegiatan dakwah. Dengan demikian, kegiatan dakwah di lakukan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Jika kegiatan penelitian sulit untuk di lakukan, sudah seharusnya para ilmuan yang memiliki kompetensi di bidang dakwah untuk terus berupaya mengembangkan ilmu dakwah melalui research-research tentang aktifitas dakwah. Kegiatan dakwah yang di lakukan oleh masyarakat harus diposisikan sebagai fenomena sosial yang dapat di jadikan sebagai lahan research untuk pengembangan aktifitas dan keilmuan dakwah. Kita tidak perlu terus berwacana dan meratapi bahwa dakwah belum menjadi ilmu. Hal terpenting yang mesti di lakukan adalah melakukan penelitian dan publikasi secara intensif, sistematis dan sustainable.

Di masa pandemi sekarang ini, terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam kehidupan masyarakat. Perubahan itu adalah berubahnya kegiatan yang dilakukan secara klasik menjadi kegiatan yang serba mengandalkan teknologi baik berupa media sosial maupun media online lainnya yang berbasis virtual. Transformasi dakwah di masa pandemi covid-19 menjadi salah satu strategi dakwah yang dilakukan orang para dai. Transformasi ini dilakukan secara struktural yang bergerak dari top down maupun secara kultural yang bergerak dari bottom up. Oleh karena itu, dengan strategi dakwah ini dapat memudahkan masyarakat untuk medapatkan informasi yang berkaitan dengan nilai-nilai islam.

Dalam laman web covid19.go.id per tanggal 24 September 2020, data penyebaran Covid-19 sudah mencapai 216 Negara dan sudah 17.660.523 terkonfirmasi poitif. Sedangkan kasus kematian dikarenakan Corona mencapai 680.894 orang. lebih khusus lagi, di Indonesia sendiri kasus positif corona mencapai 262.022 orang, yang meninggal mencapai 10.105, namun yang sudah sembuh 191.853 orang.

Untuk menghadapi era normal atau biasa disebut New Normal ini, masyarakat musti tahu apa-apa saja yang harus dipersiapkan. Dalam web covid19.go.id juga dijelaskan bahwa pandemi Covid-19 sudah merubah tatanan kehidupan. Demi menjaga kesehatan dan meminimalisir penyebaran Covid-19 ini, maka kita perlu mematuhi protokol-protokol kesehatan, seperti mengguanakan masker secara benar, selalu menjaga jarak dengan siapapun saat diluar rumah dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir minimal 20 detik. kita harus waspada akan hoax dan informasi salah yang dapat membahayakan kesehatan.

Physical distancing adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona. secara sederhana, physical distancing adalah menjaga jarak lebih dari 1 meter dengan siapapun. Dengan kata lain: tidak berdekatan dan tidak berkumpul. Dengan menerapkan physical distancing penyebaran virus dapat dicegah. Perlu diingat bahwa virus tidak bergerak sendiri, melainkan oranglah yang membawanya kemana-mana. Semua orang wajib melakukan physical distancing untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona. kita harus lebih ketat melakukannya jika untuk melindungi orang-orang yang beresiko. Orang-orang tersebut diantaranya: orang yang berusia 60 tahun keatas, mereka yang memiliki masalah kesehatan seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, kanker, asma atau paru-paru, dan juga ibu hamil.

Selain physical distancing, menggunakan masker adalah salah satu hal yang perlu dilakukan. Semua orang harus menggunakan masker kain jika terpaksa harus beraktifitas diluar rumah. Perlu diingat lagi masker kain yang digunakan tiga lapis yang dapat dicuci dan digunakan berkali-kali, agar masker bedah N-95 tersedia bagi petugas medis dan mereka yang sakit. jangan lupa untuk mencuci masker kain menggunakan sabun agar selalu bersih. penggunaaan masker yang keliru justru meningkatkan resiko penularan. jangan sentuh atau buka tutup masker saat digunakan. Tetap jaga jarak minimal 1 meter dengan siapapun, jangan sentuh wajah dan cuci tangan pakai sabun sesering mungkin.

Transformasi dakwah di masa pandemi covid-19 sekarang ini. Platform-platform media sosial dan media online lainnya yang berbasis virtual yang tersedia menjadi salah satu cara alternatif untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Ini dianggap sebagai salah cara yang cukuf efektif karena mudah dijangkau. Selama masa pandemi covid-19, dakwah merupakan salah satu cara untuk melakukan perubahan sosial baik secara individu maupun secara kelompok. Masyarakat membutuhkan bimbingan secara spritual karena sebelumnya banyak beraktivitas yang cukup menguras tenaga dan pikiran sehingga terjadi krisis spiritual. Oleh karena itu, transformasi dakwah di masa pandemi sekerang ini, yang semula hanya dilakukan secara klasik, sekarang berubah menjadi serba berbasis media online.

Pandemi covid-19 menjadikan dan memaksa manusia selalu berpikir kreatif. Dengan media sosial dan media online yang berbasis virtual dapat membuat masyarakat lebih mudah dalam medapatkan informasi. Tanpa harus mengeluarkan tenaga untuk mendatangi suatu majelis, akan tetapi cukup dengan mengaktifkan media online berbasis virtual, maka kajian keislaman dapat terakses dan dapat diikuti dengan mudah dan lebih efektif. Hakekat tranformasi dakwah di masa pandemi covid-19 ini, agar membuat masyarakat khususnya umat islam agar lebih mudah dalam mendaptakan informasi terkait dengan keIslaman yang dapat memberikan kemudahan sehingga terjadi perubahan dari segi spiritual dengan berbasis nilai-nilai agama.

PERAN PENDAKWAH DALAM RANGKA KAMPANYE CORONA

Oleh: Dewi Lestariningsih (Mahasiswa IAIN Surakarta)

Wabah Corona Virus Disease atau lebih dikenal dengan nama virus korona atau covid-19 yang pertama kali terdeteksi muncul di cina tepatnya di Kota Wuhan Tiongkok pada akhir tahun 2019, mendadak menjadi teror mengerikan bagi masyarakat dunia, terutama setelah merenggut nyawa ratusan orang dalam waktu yang relatif singkat. Hampir kurang lebih 200 Negara di Dunia terjangkit virus korona termasuk Indonesia. Berbagai upaya dalam rangka pencegahan, pengobatan dan sebagainya pun telah dilakukan dalam mencegah penyebaran virus corona, hingga lockdown dan social distancing di kota-kota besar sudah dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus korona. Dalam Islam wabah virus korona ini merupakan sebuah ujian bagi suatu kaum agar selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Islam juga mengajarkan istilah lockdown dan social distancing dalam rangka pencegahan penularan penyakit, sebagian para ulama menyebutkan Istilah penyakit ini disebut dengan Tho’un yaitu wabah yang mengakibatkan penduduk sakit dan berisiko menular.

Istilah lockdown dan social distancing ini juga dianjurkan dalam ajaran Islam, dikutip dari http://www.hidayatullah.com Jauh sebelum kasus ini muncul, telah terdapat juga sebuah wabah yang dikenal dengan istilah Tho’un. Lalu apakah Corona bisa disamakan dengan tho’un. Melihat definisi para Ulama, wabah Corona ini tidak bisa dikategorikan tho’un, karena tho’un lebih khusus dan spesifik dibandingkan dengan wabah, namun walaupun berbeda dari sisi penamaan, penyakit ini sama-sama berbahaya dan menular yang tidak bisa disepelekan. Jika dirunut dari sejarah terjadinya, penyakit-penyakit wabah semacam corona ini atau pun tho’un, sudah ditemukan sejak masa Nabi Muhammad SAW. dan bahkan jauh sebelum Nabi diutus, yaitu pada zaman Bani Isra’il. Sehingga pada akhirnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah di rumah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19.

Meskipun wabah penyakit Covid-19 dalam catatan sejarah Islam masih menjadi perdebatan dan kontroversial baik di kalangan ulama, kyai, ustadz, bahkan di media-media sosial, dan cenderung di kait-kaitkan satu sama lain. Namun faktanya wabah penyakit Covid-19 ini memang sangat mirip kasusnya seperti wabah penyakit yang menyerang kaum muslim di masa lalu. Misalnya dalam sejarah Islam bisa kita simak tentang wabah penyakit yang terjadi pada masa kaum muslimin menaklukkan Irak dan Syam. Setelah Peperangan yang sangat sengit di Yarmuk, kemudian kaum muslimin menetap di Negeri Syam. Setelah itu datanglah wabah penyakit korela yang menelan kurang lebih 25.000 jiwa pada saat itu. Oleh karena itulah tidak heran jika para ulama, kyai, ustadz, peneliti dan yang lainnya mengaitkan peristiwa ini dengan wabah penyakit Covid-19. Karena memang wabah penyakit tersebut secara sekilas sangat mirip dengan wabah Covid-19 yang terjadi saat ini yang menelan puluhan ribu jiwa. Kajian Islam ilmiah pun disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 14 Rajab 1441 H / 09 Maret 2020 M. saat ini manusia banyak membicarakan tentang suatu musibah yang besar yang ditakuti oleh kebanyakan manusia, yaitu virus yang terkenal dengan virus Corona. Yang mana manusia banyak membicarakan tentang pengaruh dan bahaya yang ditimbulkan oleh virus ini. Juga mereka membicarakan tentang cara untuk menghindar dan selamat dari virus tersebut. Kemudian beliau memaparkan tentang petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan cara-cara yang dapat menerangkan jalan seorang mukmin untuk menghadapi permasalahan seperti ini. Diantara petunjuk-petunjuk Al-Qur’an yang sangat agung yaitu bahwasanya seorang hamba tidak akan ditimpa suatu musibah kecuali Allah telah menuliskan dan mentakdirkan musibah tersebut. Allah SWT. berfirman: “Katakanlah: Tidak akan menimpakan kami kecuali apa yang Allah telah tuliskan untuk kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah bertawakal orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah[9]: 51).
Maka tidaklah seorang hamba ditimpa satu musibah kecuali apa yang Allah telah tuliskan kepadanya. Maka sungguh seorang hamba sangat butuh dalam kondisi seperti ini untuk selalu memperbaharui keimanannya, memperbaharui keyakinannya terhadap takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan bahwasanya semua yang ditulis pasti terjadi. Dan apa yang menimpa seorang hamba tidak akan meleset darinya dan apa yang meleset dari seorang hamba tidak akan menimpanya dan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan pasti terjadi dan apa yang Allah tidak inginkan tidak akan terjadi. Apabila manusia berhadapan dengan persoalan lingkungan hidup saat ini, muncullah pertanyaan yang mengungkapkan bahwa kenapa agama-agama besar di dunia ini dengan ajaran moral dan peri kemakhlukannya, tidak atau kurang berperan untuk ikut memecahkannya. Namun, jika diperhatikan faktor-faktor yang membawa kepada perusakan dan pencemaran lingkungan hidup, akan tampak bahwa penyebab pokoknya terletak pada materialisme yang melanda dunia saat ini. Umat manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan kesenangan materi yang sebanyak mungkin. Dalam mengumpulkan kekayaan materi, orang tidak segan menebang pepohonan di hutan-hutan, menjaring sebanyak mungkin ikan di laut termasuk bibit-bibitnya, menguras bahan mineral di perut bumi, membuang limbah ke air, darat, dan udara. Hal ini menunjukkan bahwa tidak atau kurang adanya perhatian kepada ayat Al-Qur’an, walaupun 15 abad yang lalu ayat Al-Qur’an memberikan peringatan kepada manusia bahwa kerusakan timbul di darat, dan di laut karena perbuatan manusia (Surah Ar-Rum ayat 41). Saat ini apa yang dikatakan Al-Quran tersebut terbukti jelas. Timbullah masalah lingkungan hidup, karena kerakusan manusia terhadap materi. Oleh karena itulah kehidupan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan menjadi terancam akibat ulah manusia itu sendiri. Dengan penjelasan tersebut, maka dapat kita ketahui bahwa virus Covid-19 pun bisa jadi disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri yang tanpa disadari, sehingga Allah SWT memberikan peringatan kepada kita untuk selalu ingat kepada Allah SWT.
Dakwah menurut etimologi (bahasa) berasal dari kata bahasa Arab yaitu da’a yad’u da’watan yang berarti mengajak, menyeru, dan memanggil. Menurut yaikh Ali Makhfudz, dalam kitabnya Hidayatul Mursyidin memberikan definisi dakwah Islam yaitu mendorong manusia agar berbuat kebaikan danmengikuti petunjuk (hidayah), menyeru mereka berbuat kebaikan dan mencegah darikemungkaran, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kemudian menurut Prof Dr. Hamka dakwah adalah seruan panggilan untuk menganut suatupendirian yang ada dasarnya berkonotasi positif dengan substansi terletak pada aktivitas yang memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkar. Dapat disimpulkan bahwa dakwah merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh informan (da’i) untuk menyampaikan informasi kepada pendengar (mad’u) mengenai kebaikan dan mencegah keburukan. Aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan menyeru, mengajak atau kegiatan persuasiflainnya. Dakwah menjadikan perilaku Muslim dalam menjalankan Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin yang harus didakwahkan kepada seluruh manusia, yang dalam prosesnyamelibatkan unsur: da’i (subyek), maaddah (materi), thoriqoh (metode), wasilah (media), danmad’u (objek) dalam mencapai maqashid (tujuan) dakwah yang melekat dengan tujuanIslam yaitu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Islam sebagai agama merupakan penerus dari risalah-risalah yang dibawa nabi terdahulu,terutama agama-agama samawi seperti Yahudi dan Nasrani. Islam diturunkan karenaterjadinya distorsi ajaran agama, baik karena hilangnya sumber ajaran agama sebelumnyaataupun pengubahan yang dilakukan pengikutnya. Dalam agama Nasrani misalnya, hinggasaat ini belum ditemukan kitab suci yang asli.

Wasilah (media) dakwah adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan materi dakwah (ajaran Islam) kepada madu. Untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umat, dakwah dapat mengunakan berbagai wasilah. Hamzah Yaqub membagi wasilah dakwah menjadi lima macam, yaitu: lisan, tulisan, lukisan, audiovisual dan akhlak. Adapun tujuan tujuan dakwah dalam hal ini dapat membawa manusia kepada kebajikan, kesucian, kesejahteraan, kebahagiaan, dan keselamatan dunia dan akhirat, karena sudah merupakan fitrah manusia sejak lahir untuk menjadi suci, sehingga manusia selalu cenderung kepada kebaikan, 38 kebenaran, kesucian, dan segala sifat yang identik dengan itu. (Anwar Arifin, 2011: 24) Secara umum tujuan dakwah adalah terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah SWT. Adapun tujuan dakwah, pada dasarnya dapat dibedakan dalam dua macam tujuan, yaitu: tujuan umum dakwah (Mayor Objective) dan tujuan khusus dakwah (Minor Objective).

Di tengah menyebarnya pandemi Covid-19 di seluruh dunia, peran pendakwah menjadi sangat penting karena keberadaan dampak merebaknya virus Corona juga mempengaruhi kegiatan beragama masyarakat muslim Tanah Air. Untuk itu, seluruh ulama dan organisasi masyarakat (Ormas) Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk dapat satu suara dalam mengeluarkan arahan dan himbauan kepada umat. Kita sebagai seorang muslim harus bersikap bijak dalam menghadapi situasi saat ini. Kemudian seorang muslim harus bersikap proporsional, tapi sikap proporsional semacam apa yang harus diambil? Karena mereka belum punya pilihan, akhirnya mereka memilih sendiri-sendiri. Dalam hal ini ulama juga punya peran. Tetapi ulama juga harus diberi bahan oleh pemerintah, supaya fatwanya betul-betul tepat.

Perjuangan melawan situasi pandemi Covid-19 merupakan sebuah tugas utama bagi para pendakwah selaku pencerah di masyarakat agar tidak terombang-ambing dikeadaan yang serba tidak pasti ini dan agar masyarakat merasa tenang saat menghadapi pandemic seperti ini. Menurut saya seorang pendakwah sangat penting danlam rangka kampanye pecegahan corona ini, karena dalam salah satu konsep dakwah adalah melakukan perubahan pada sosial, dimana pada perilaku masyarakat yang melanggar etika yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat hsrus diluruskan agar tidak menyebar dan menjadi penyakit kolektif. Masyarakat harus di bimbing dan diarahkan pada hal hal yang positif dan bermanfaat bagi orang lain. Dan realitas sosial selalu membutuhkan tuntunan sepiritual agar sejalan dangan petunjuk Allah swt.

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari). Dikutip dalam buku berjudul ‘Rahasia Sehat Ala Rasulullah SAW: Belajar Hidup Melalui Hadist-hadist Nabi’ oleh Nabil Thawil, di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk. Tha’un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia. Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit. “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhari) Selain Rasulullah, di zaman khalifah Umar bin Khattab juga ada wabah penyakit. Dalam sebuah hadist diceritakan, Umar sedang dalam perjalanan ke Syam lalu ia mendapatkan kabar tentang wabah penyakit. Hadist yang dinarasikan Abdullah bin ‘Amir mengatakan, Umar kemudian tidak melanjutkan perjalanan. Berikut haditsnya: “Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori). Dalam hadits yang sama juga diceritakan Abdullah bin Abbas dan diriwayatkan Imam Malik bin Anas, keputusan Umar sempat disangsikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Dia adalah pemimpin rombongan yang dibawa Khalifah Umar. Menurut Abu Ubaidah, Umar tak seharusnya kembali karena bertentangan dengan perintah Allah SWT. Umar menjawab dia tidak melarikan diri dari ketentuan Allah SWT, namun menuju ketentuan-Nya yang lain. Jawaban Abdurrahman bin Auf ikut menguatkan keputusan khalifah tidak melanjutkan perjalanan karena wabah penyakit.
Melalui metode manhaj haraki. Dimana metodologi secara bahasa berasal dari bahasa Yunani, “metodos” dan “logos”. Kata “methodos” berasal dari dua suku kata, yaitu “metha” yang artinya melalui atau melewati, dan “hodos” yang artinya jalan atau cara. Sedangkan “logos” berarti kata atau pembicaraan. Artinya, metodologi adalah pembicaraan tentang cara melewati sesuatu. Dalam bahasa Indonesia, metodologi diartikan sebagai “ilmu tentang metode” atau “uraian tentang metode”. Dalam bahasa Arab, metodologi disebut juga dengan manhaj. Ahmad Syukri Saleh mengartikan manhaj atau minhaj sebagai “jalan yang terang” berdasarkan analoginya terhadap surah al Ma’idah ayat 48. Adapun manhaj haraki atau metodologi pergerakan, diartikan oleh Muhammad Ali Iyazi sebagai metode tafsir terperinci (tahlily), yang didasarkan pada naungan penjelasan Allah dalam kitab-Nya, yang kemudian dikaitkan dengan pergerakan penafsir di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin. Tafsir ini bertujuan untuk membangun masyarakat Islam dan membantu mereka agar terlepas dari jeratan masyarakat yang jahiliyyah di masa sekarang dengan cara-cara yang sama seperti di masa awal umat Islam. Jadi, metodologi tafsir pergerakan al Quran adalah uraian tentang metode menafsirkan al Quran yang mengikuti pergerakan penafsir dalam masyarakat sesuai dengan pergerakan atau manhaj al Quran untuk memengaruhi kaum muslimin kontemporer.

Dengan demikian keberadaan pendakwah itu sangatlah strategis didalam kehidupan masyarakat. Maka bersinergi dengan berkoordinasi bersama pihak otoritas yang berwenang seperti MCCC atau pemerintah dan para pekerja kesehatan untuk menyatukan informasi, sehingga dapat disampaikan kepada masyarakat dalam pemahaman yang sama menghadapi pandemi ini. Mubaligh harus paham akan suasana, memberikan pencerahan yang sifatnya burhani yaitu penjelasan yang bersifat ilmiah dan memberikan pencerahan yang sifatnya spiritual dan perspektif yang positif harus dibangun.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syukri Saleh.Metodologi Tafsir Al-Quran Kontemporer dalam Pandangan Fazlur Rahman. Sulthan Thaha Press, Jakarta, 2007.
Drs. Wahidin Saputra, M.A., Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta, 2011
Dakwah dan majalah http://eprints.walisongo.ac.id/3482/3/091211003_Bab2.pdf
https://www.researchgate.net/publication/340632583_WABAH_CORONA_VIRUS_DISEASE_COVID_19_DALAM_PANDANGAN_ISLAM
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) http://kbbi.web.id/metodologi
Wikipedia, Ensiklopedia Bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Metodologi
http://www.hidayatullah.com

Semarak Virtual Puncak FUD EXPO 2020

Oleh: Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo)

Acara Virtual FUD EXPO 2020

Senin, 28/09/2020. DEMA FUD IAIN Surakarta menggelar acara Puncak FUD EXPO 2020 dengan tema “Kearifan Lokal sebagai Basis Transformasi Nilai-nilai Keagamaan dan Dakwah Islam di Era Digitalisasi”. Acara ini adalah penutup dari serangkaian acara FUD EXPO 2020 yang diselenggarakan sejak awal bulan September.

Ingin tahu kelanjutannya? Klik link di bawah ini yaa..🙌

https://fud.iain-surakarta.ac.id/semarak-virtual-puncak-fud-expo-2020/

Sampaikan Aspirasi, DEMA FUD Menggelar Dialog Civitas

Oleh : Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo)

Dialog civitas via google meeting

Rabu, 19/08/2020. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta baru saja menggelar Dialog Civitas. Dialog ini mengangkat tema “Komitmen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta dalam mewujudkan visi misi fakultas di masa new normal”.

Ingin tahu kelanjutannya? Klik link di bawah ini yaa..🙌

https://fud.iain-surakarta.ac.id/sampaikan-aspirasi-dema-fud-menggelar-dialog-civitas/

Tak kenal, Maka Kenalan Dulu

Oleh : Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo)

Halo,
Sahabat DEMA FUD IAIN Surakarta. Kembali lagi dengan mimin. Mimin mau ngenalin pengurus DEMA FUD IAIN Surakarta nih, siapa aja sih?
Kuyy simak.. .

Struktur pengurus DEMA FUD 2020

Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah atau biasa disebut DEMA FUD merupakan organisasi internal kampus di tingkat fakultas. DEMA FUD berada di bawah naungan dan arahan Dekan FUD yaitu Bapak Dr. Islah, M. Ag. Selain itu juga ada Wakil Dekan III bidang Kemahasiswaan & Kerajasama selaku penanggung jawab DEMA FUD yaitu Bapak Dr. Kholilurrohman, M.Si.

Ketua umum DEMA FUD periode kali ini (2020) adalah Eko Aji Arabbiyanto mahasiswa prodi Manajemen Dakwah tahun 2017. Selain itu ketua juga didampingi oleh sekretaris, bendahara dan ketua bidang yang masuk dalam Badan Pengurus Harian (BPH). Selanjutnya untuk membantu berjalannya roda organisasi maka dibentuklah departemen-departemen. Departemen Pengembangan Potensi Sumber Daya Mahasiswa (PPSDM) dan Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) yang dikoordinir oleh ketua bidang Internal, serta departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dan departemen Dakwah dan Budaya yang di koordinir oleh ketua bidang eksternal.
Untuk daftar pengurus selengkapnya bisa dilihat di Bagan yaa.

Bincang Seru di Obrolan Buku “Ingin Saleh Boleh, Merasa Saleh Jangan”

Buku Ingin Saleh Boleh, Merasa Saleh Jangan

Oleh : Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo)

(Jum’at/12/06/2020) Akhir Pandemi ini, tidak jauh-jauh dari segala aktivitas yang berkaitan dengan online, khususnya pembelajaran. Entah itu belajar agama atau belajar ilmu lain. Seperti kebanyakan orang pasti pernah melakukan maupun mengikuti obrolan buku bukan?
Ngomongin soal obrolan buku, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dari Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) 2020 baru saja menggelar obrolan buku online yang berjudul Ingin Saleh Boleh, Merasa Saleh Jangan. Nah, obrolan buku ini tentu ditemani pemantik yang kece dan pastinya seru. Siapa sih? Tidak usah jauh-jauh, DEMA FUD 2020 mempersembahkan dosen (muda) FUD seperti Bapak Abraham Zakky Zulhazmi., M.A.Hum., kemudian Bapak Nur Rohman., M.Hum. dan Bapak Alfin Miftahul Khairi., M.Pd., tidak lupa dipandu oleh moderator Saudari Ayu Ratna dan pembawa acara Saudari Iga Aryani yang tidak kalah kece, sekaligus panitia dari DEMA FUD 2020. Kemudian peserta obrolan ialah mahasiswa IAIN Surakarta dan kalangan umum (mahasiswa kampus lain, ada juga anak yang duduk di bangku Madrasah Aliyah) tentunya berasal dari berbagai daerah yang pastinya bukan hanya wilayah Surakarta dan sekitarnya.

Obrolan buku online ini digelar sore hari jam 2 sampai selesai bisa sambil tiduran, memasak, mengerjakan tugas maupun kegiatan lain. Adapunan susunan acara seperti pembukaan oleh pembawa acara, pembacaan CV oleh moderator, pengantar kata dari moderator, pembacaan materi oleh pemateri, sesi tanya jawab, closing statement dari para pemateri, hingga penutup oleh ketua DEMA FUD 2020 dan pembawa acara. Setelah pembukaan, pembacaan CV dan pengantar kata disambung dengan sambutan pertama yakni Bapak Abraham Zakky Zulhazmi., M.A.Hum. sedikit cuplikannya, secara ringkas buku ini merupakan kumpulan esai yang ditulis oleh dosen muda IAIN Surakarta yang dimuat dan dibukukan oleh web islamsantun.org.

Meski banyak tema dari buku ini tetapi kalau disimpulkan menjadi susunan kata ‘kalau mau saleh boleh sebenarnya, tapi merasa saleh jangan seperti pernyataan pengin pintar boleh, tapi merasa pintar jangan. Sambutan pemateri yang selanjutnya disampaikan oleh Bapak Nur Rohman., M. Hum. sedikit cuplikannya, buku ini lahir dari tantangan Pimred (Pimpinan redaktur) islamsantun.org yang merupakan salah satu penulis buku ini juga, beliau menantang untuk menulis pada bulan ramadan one day one article (satu hari satu artikel) yang akhirnya pada 2020 ini berhasil diterbitkan atau dibukukan tulisan-tulisan tersebut. Beliau (Bapak Nur Rohman) juga menyinggung bahwa menulis tentang bagaimana prasyarat seorang itu menuntut ilmu sesuai dengan ajaran Imam Syafi’i. Hingga sambutan materi yang ketiga ialah Bapak Alfin Miftahul Khairi., M.Pd. juga memaparkan cuplikan dari materi adalah saleh tidak melulu dipandang melalui tampilan fisik maupun luar, tetapi lebih kepada amalan atau internalisasi nilai-nilai keislaman yang ada di dalam diri masing-masing baik dari perilaku, bahasa, pakaian dan sebagainya. Demikianlah pemenggalan sambutan dan cuplikan sedikit materi yang disampaikan oleh pemantik.

Materi demi materi disampaikan dengan santai tetapi begitu mengena di hati. Gaya penyampaian lugas serta menarik (dalam artian bahasa yang digunakan tidak jauh dari bahasa sehari-hari yang sering dipakai kaum muda sekarang) yang memudahkan pemahaman bagi peserta dari obrolan tersebut. Selesai penyampaian materi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, bagi penanya sangat antusias melontarkan pernyataan yang luar biasa kemudian para pemateri menjawab satu persatu pertanyaannya. Hingga acara closing statement oleh para pemateri salah satunya mengajarkan agar hidup jangan lelah dalam menebarkan kebaikan serta bermanfaat bagi sekitar, lalu disambung dengan penutupan yang ditutup oleh Ketua DEMA FUD 2020 Saudara Eko Aji Arabbiyanto kemudian pembawa acara mengumumkan peserta yang mendapatkan doorprize sebuah buku “Ingin Saleh Boleh, Merasa Saleh Jangan” atas nama Lilis Sri Rejeki (Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia/IAIN Surakarta).

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai